Sabtu, 15 Desember 2012

Motivasi dan Emosi dan Motivasi, Belajar, dan Minat



BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses internal (dari dalam diri seseorang ) yang mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan perilaku dalam rentang waktu tertentu. Peran motivasi, dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan seseorang untuk berprestasi dalam hidupnya, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan.
Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang tersebut tidak terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya itu. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar, minat menjadi motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan, tanpa dengan minat, tujuan belajar tidak akan tercapai.
Emosi merupaka perasaan positif dan negatif sebagai reaksi terhadap stimulus yg diikuti perubahan fisiologis dan perilaku yang tekait. Jika berbicara mengenai emosi, maka berhubungan dengan aggresi yang merupakan kombinasi antara motivasi dan emosi .

BAB II
PEMBAHASAN
E.  Motivasi dan Emosi
Pembahasan kita tentang konflik, frustasi dan reaksi terhadap frustasi menunjukkan bahwa emosi mempunyai kaitan yang amat erat dengan motivasi. Emosi itu sendiri adalah pendorong terjadinya perilaku, tetapi hubungannya dengan motivasi itu seperti apa, belum terjawab sepenuhnya oleh psikolog. Menurut Hilgard, dkk, kebanyakan ahli beranggapan bahwa motivasi adalah pendorong perilaku determinan yang berasal adari dalam diri individu (rangsang-rangsang eksternal). Penjelasan ini oleh Hilgard, dkk, juga dipandang tidak memuaskan karena kelaparan pun dapat merangsang timbulnya emosi, dorongan seksual yang bersifat internal ternyata sarat dengan unsur-unsur emosional.
Kebanyakan perilaku bermotivasi mempunyai komponen emosional (afektif).Komponen inilah yang menebakan perilaku tertentu cenderung dulang kembali (karena menghasilkan sesuatu yang menyenangkan) atau dijauhi/dihindari (karena menimbulkan sesuatu yang tidak disukai).Meskipun demikian, para ahli lebih memperhatikan perilaku terarah tujuan bila mempelajari motivasi dan pengalaman subjektif-afektif bila mempelajari emosi. Karena perilaku bermotivasi selalu mempunyai komponen afektif, maka pengetahuan tentang perilaku apa dengan komponen afektif apa akan mempermudah usaha untuk memperbesar motivasi manusia. Usaha-usaha yang dibekali dengan pengetahuan seperti ini akan lebih strategis dalam memberikan insentif, hadiah, atau hukuman. Ini memang tidak berarti mudah untuk meramalkan suatu perilaku bermotivasi.Para ahli kebanyakan sepakat bahwa dalam emosi masih terdapat unsur nalar dan kognisi. Karena adanya kognisi inilah maka dapat terjadi dua orang yang menghadapi insentif yang sama (uang) mempunyai reaksi yang amat berbeda. Tetapi pengetahuan tentang emosi ini paling tidak memperluas cakrawala pertimbangan orang-orang yang pekerjaan sehari-harinya harus mempertahankan motivasi orang setinggi mungkin (di perusahaan-perusahaan atau di sekolah).
Contoh kasus: Pada suatu waktu seorang kaka terlibat pertengkaran dengan adiknya  yang sebenarnya hanya dikarenakan masalah sepele. Satelah cubit-mencubit, pukul-memukul, cakar-mencakar tiba-tiba datanglah ibu dari kakak-beradik tersebut dan menghentikan pertengkaran. “kamu itu yang paling besar, harus bisa tahan emosi sama adik sendiri, jangan kayak anak kecil terus “ itu yang dikatakan ibu kepada si kakak. Tidak cukup sampai disitu seharian si kakak diceramahi bukan hanya oleh ibu, tapi juga anggota keluarga yang lainnya.
Kesal, marah, gerah semua itu kakak rasakan secara bersamaan, kakak merasa tidak adil jika kakak terus disalahkan dan diharuskan mengalah hanya karena status si kakak sebagai anak pertama.Karena tidak tahan dengan perasaan tersebut si kakak lari keatas loteng dan berteriak sekuat-kuatnya sampai si kakak merasa tenang. Pelepasan energi negatif (kesal, marah, gerah) yang si kakak lakukan adalah katarsis yaitu proses pelepasan energi instingual yang di kemukakan oleh Freud.

E. 1   Hubungan Motivasi dan Emosi
Para ahli yang menekuni bidang psikoanalisa percaya bahwa emosi merupakan representasi dari ketidaksadaran.Emosi atau afek dalam istilah psikoanalisa merupakan mekanisme mengontrol semua aspek perilaku manusia.Emosi dipercaya sangat dekat berhubungan dengan dorongan atau motif.Untuk mencapai rasa aman dan survival, seseorang dilahirkan dengan kapasitas untuk merasa cemas.Untuk pembiakan, seseorang dilahirkan dengan kapasitas untuk merasakan hasrat seksual dan kasih sayang.Untuk menghindari situasi tanpa harapan, seseorang dilahirkan dengan kapasitas untuk merasa tertekan dan menarik diri. Dengan kata lain, emosi adalah cara bagaimana kebutuhan seorang manusia di penuhi. Kebutuhan untuk dilindungi, aman, berkuasa, mengontrol, tertarik, dan otonomi diri dipenuhi melalui emosi-emosi yang muncul.Misalnya kebutuhan berkuasa memunculkan rasa sombong dan bangga jika sudah berkuasa. Jika belum berkuasa, muncullah rasa was-was atau terancam pihak yang berkuasa, yang oleh karenanya mendorong untuk jadi berkuasa.

Sistem motivasional manusia dipercaya menunjukkan dirinya melalui emosi.Pada saat sebuah emosi muncul, itulah tanda bahwa motivasi tertentu menjadi aktif pada saat itu.Misalnya Anda merasa lapar, nah ketika Anda menemukan makanan, muncullah emosi tertentu yang menunjukkan aksesibilitas terhadap makanan itu.Jika makanan itu berbau dan berbelatung, mungkin muncul rasa jijik sehingga Anda tidak mau memakannya.Jika makanan itu dimakan, muncullah emosi lega. Begitu juga saat Anda bertemu dengan teman lain jenis. Jika Anda merasa tertarik maka Anda akan mendekatinya untuk mengajaknya kencan. Jika Anda tidak merasa tertarik maka Anda mungkin tidak akan mengajaknya kencan.
Anda mungkin tidak menyadari dorongan, motif atau motivasi Anda dalam suatu saat.Namun demikian adalah nyata bahwa hal-hal tersebut mempengaruhi emosi Anda.Mengapa emosi cinta muncul pada lawan jenis yang menarik? Tidak lain karena Anda memiliki dorongan seksual terhadap lawan jenis. Boleh jadi Anda kurang menyadari hal itu.Adapun yang Anda sadari hanyalah Anda rindu ingin bertemu.
Emosi itu sendiri merupakan motivator utama manusia dalam menjalani hidup.Manusia selalu berupaya memaksimalkan emosi-emosi yang menyenangkan dan meminimalkan emosi-emosi yang tidak menyenangkan.Hampir semua kegiatan yang dilakukan manusia dalam rangka itu.Meskipun tentu saja tidak selalu berhasil.Namun pasti, itulah yang dilakukan semua orang.Orang bekerja adalah dalam rangka mendapatkan emosi yang lebih menyenangkan. Orang berharap lebih bahagia jika berhasil melakukannya
Ratusan bahkan mungkin ribuan kata kata keseharian kita menunjukkan motif kita.seperti kebutuhan, tujuan, hasrat, keinginan, ambisi, harapan, lapar, haus, cinta bahkan balas dendam. Sejak jaman kuno, motivasi dikenal sebagai  penentu penting  emosi yang tercermin pada tingkah laku.
Contoh:
Seorang gadis ingin menjadi dokter karena termotivasi oleh orang tuanya yang sukses.
Seorang gagal dalam hubungan asmara dan berusaha keras dalam karir
Seorang mahasiswa yang ingin melihat nilai temannya lebih tinggi ingin bisa mengahalkan nila tersebut ,ini berawal dari rasa persaingan berujung pada motivasi positif yang kuat.
Itu adalah berbagai contoh motifasi memainkan peranan penting dalam emosi dan tingkah laku kita pula baik motivasi yang berkisar pada kebutuhan dasar seperti rasa lapar dan haus sampai motif jangka panjang yang lebih rumit seperti ambisi politik,keinginan untuk menjadi pelayanan kemanusiaan,atau harapan untuk menguasai lingkungan.
F.  Motivasi, Belajar, dan Minat
Dalam kaitannya dengan belajar dan minat biasanya para ahli membedakan dua macam motivasi berdasarkan sumber dorongan terhadap perilaku, yaitu:
  • Motivasi intrinsik
Motivasi ini mempunyai sumber dorongan dari dalam diri individu yang bersangkutan. Misalnya: “saya mau jadi dokter”, “saya tahu saya harus lebih banyak belajar karena kurang menguasai biologi”, dll.
Motivasi ini juga erat kaitannya dengan n-achnya Mc Clelland dan aktualisasi dirinya Maslow.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsic bersifat lebih tahan lama dan lebih kuat dibanding motivasi ekstrinsik untuk mendorong minat belajar.
  • Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik mempunyai sumber dorongan dari luar. Misalnya: takut dimarahi ayah, untuk mendapat pujian dari pacar, agar dibilang anak pintar, dll).
Motivasi ini juga bisa sangat efektif  karena minat tidak selalu bersifat intrinsic. Sumber yang efektif dari motivasi ini untuk meningkatkan  minat dan perilaku belajar adalah guru yang baik, nilai yang adil dan objektif, kesempatan belajar yang luas, dan juga suasana kelas yang hangat dan dinamis.
Sumber dari motivasi ini misalnya saja kebutuhan kita untuk menemukan makanan, mendapatkan kesehatan, mendapatkan keamanan, mendapatkan kehormatan, meraih prestasi di bidang kita, dan seterusnya.
Contoh kasus dalam motivasi intrinsic dan ekstrinsik adalah:
Ada kisah nyata, adalah tentang seorang anak yang dari keluarga kurang mampu, memiliki otak yang cerdas malahan cendrung jenius dan kemampuan interaksi sosialnya cukup bagus.Padahal kita tahu kondisi sosial ekonomi keluarganya tidaklah mungkin memberi motivasi belajar yang baik.
Sebagai contoh, di Padang ada seorang anak tukang parkir yang tiap hari harus ke sekolah jalan kaki sejauh 3km. Jadi dalam 1 hari harus menempuh 6 km untuk kembali pulang ke rumahnya. Sampai di rumah harus pula membantu orang tua dan adik-adiknya. Tidaklah mungkin orang tuanya memberikan les untuk tambahan pelajaran, apalagi kursus bahasa Inggris.Tapi apa yang terjadi dengan nilai-nilai ujiannya? Ternyata dia memperoleh nilai NEM tertinggi nyaris sempurna di Sumatera Barat tingkat SMU.Sekarang dia dapat beasiswa di Fakultas Kedokteran UNAND.
Ada lagi kisah seorang anak, yang memang benar-benar cerdas cendrung jenius.Karena orang tuanya berkemampuan secara ekonomi, segala fasilitas disediakan.Dia diterima di ITB (jurusannya lupa, krn kisah lama). Tapi apa kejadian, dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya, katanya bosan.
Inilah contoh bahwa motivasi Intrinsik lebaih tahan lama dan kuat dibandingkan dengan motivasi ektrinsik.


F. 1  Hubungan Motivasi, Belajar, dan Minat
Secara bahasa, minat berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:1027). Menurut Slameto (2003:180), minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya. Sardiman (1988:76) berpendapat bahwa minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan seseorang terhadap obyek atau sesuatu kegiatan yang digemari yang disertai dengan perasaan senang, adanya perhatian, dan keaktifan berbuat. Minat mengandung unsur kognisi (mengenal), emosi (perasaan), dan konasi (kehendak). Oleh sebab itu, minat dianggap sebagai respon yang sadar, sebab jika tidak demikian, minat tidak akan mempunyai arti apa-apa. Unsur kognisi maksudnya adalah minat itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai obyek yang dituju oleh minat tersebut, ada unsur emosi karena dalam partisipasi atau pengalaman itu disertai oleh perasaan tertentu, seperti rasa senang, sedangkan unsur konasi merupakan kelanjutan dari unsur kognisi. Dari ketiga unsur inilah yang diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu kegiatan, termasuk kegiatan yang ada di sekolah seperti belajar.
Pengertian belajar menurut Ernest R Hilgard (Zanikhan, 2008), adalah proses yang dengan sengaja menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan sebelumnya. Sedangkan menurut Gagne (Zanikhan, 2008), belajar merupakan perubahan yang diperlihatkan dalam tingkah laku, yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang sempurna itu. Menurut Sardiman (2008:38), belajar merupakan usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar itu menimbulkan suatu perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan perubahan itu dilakukan lewat kegiatan, atau usaha yang disengaja.
Minat sangat erat hubungannya dengan belajar, belajar tanpa minat akan terasa menjemukan, dalam kenyataannya tidak semua belajar siswa didorong oleh faktor minatnya sendiri, ada yang mengembangkan minatnya terhadap materi pelajaran dikarenakan pengaruh dari gurunya, temannya, orang tuanya. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab sekolah untuk menyediakan situasi dan kondisi yang bisa merangsang minat siswa terhadap belajar. Jadi, yang dimaksud dari minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala, seperti : gairah, kemauan, perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain, minat belajar itu mempunyai ketergantungan pada faktor internal seseorang (siswa) seperti perhatian, kemauan dan kebutuhan terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam belajar.

Peranan Dan Fungsi Minat
Minat memegang peranan penting dalam kehidupannya dan mempunyai dampak yang besar atas prilaku dan sikap, minat menjadi sumber motivasi yang kuat untuk belajar, anak yang berminat terhadap sesuatu kegiatan baik itu bekerja maupun belajar, akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. William Amstrong (dalam Zanikhan, 2008), menyatakan bahwa konsentrasi tidak ada bila tidak ada minat yang memadai, seseorang tidak akan melakukan kegiatan jika tidak ada minat, Lester dan Alice Crow juga menekankan beberapa pentingnya minat untuk mencapai sukses dalam hidup sesorang.
Peranan minat dalam proses belajar mengajar adalah untuk pemusatan pemikiran dan juga untuk menimbulkan kegembiraan dalam usaha belajar seperti adanya kegairahan hati dapat memperbesar daya kemampuan belajar dan juga membantunya tidak melupakan apa yang dipelajarinya, jadi belajar dengan penuh dengan gairah, dapat membuat rasa kepuasan dan kesenangan tersendiri.
Dalam hubungannya dengan pemusatan pemikiran, minat mempunyai peranan dalam memudahkan terciptanya pemusatan perhatian, dan mencegah gangguan perhatian dari luar (Gie, 2004:57). Oleh karena itu minat mempunyai pengaruh yang besar dalam belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan sebaik- baiknya, sebab tidak ada daya tarik baginya. Sedangkan bila bahan pelajaran itu menarik minat siswa, maka ia akan mudah dipelajari dan disimpan karena adanya minat sehingga menambah kegiatan belajar.
Fungsi minat dalam belajar lebih besar sebagai motivating force yaitu sebagai kekuatan yang mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima pelajaran. mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk terus tekun karena tidak ada pendorongnya. Oleh sebab itu untuk memperoleh hasil yang baik dalam belajar seorang siswa harus mempunyai minat terhadap pelajaran sehingga akan mendorong ia untuk terus belajar.

Unsur-Unsur Minat Belajar
Reber dalam Syah (1995: 136) mengemukakan bahwa minat mempunyai ketergantungan pada faktor internal seperti perhatian, kemauan dan kebutuhan. Unsur-unsur inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini. Berikut uraian dari beberapa komponen minat tersebut.
1)   Perhatian
                   Perhatian sangatlah penting dalam mengikuti kegiatan dengan baik, dan hal ini akan berpengaruh pula terhadap minat siswa dalam belajar. Menurut Suryabrata (2007:14) perhatian dalam belajar yaitu pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas seseorang yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek belajar. Siswa yang aktifitas belajarnya disertai dengan perhatian yang intensif akan lebih sukses, serta prestasinya akan lebih tinggi. Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih sukses dan prestasinya pun akan lebih tinggi. Orang yang menaruh minat pada suatu aktivitas akan memberikan perhatian yang besar. Ia tidak segan mengorbankan waktu dan tenaga demi aktivitas tersebut. Oleh karena itu seorang siswa yang mempunyai perhatian terhadap suatu pelajaran, ia pasti akan berusaha keras untuk memperoleh nilai yang bagus yaitu dengan belajar.
                   Maka dari itu sebagai seorang guru harus selalu berusaha untuk menarik perhatian anak didiknya dengan cara mengajar yang menyenangkan agar perhatian siswa dapat muncul dengan sendirinya untuk lebih memperdalam pelajaran yang diajarkannya.
                   Beberapa indikator yang berhubungan dengan aspek perhatian dalam belajar ini diantaranya bertanya kepada guru, memperhatikan penjelasan guru, mencari sumber belajar di luar sekolah, konsentrasi dalam belajar, dan tidak melamun saat guru menerangkan pelajaran di depan kelas.

2)   Kemauan
                   Kemauan yaitu kondisi dimana seorang siswa cenderung untuk melakukan suatu aktifitas tanpa adanya paksaan. Siswa yang memiliki keinginan yang kuat untuk mempelajari suatu hal, maka dia akan berusaha untuk mencari pengetahuan yang lebih terhadap sesuatu itu. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya aktifitas belajar. Jika sejak awal siswa tidak ada kemauan untuk belajar, maka sulit baginya untuk memulai aktifitas belajar tersebut.    
                   Beberapa indikator yang berhubungan dengan aspek kemauan ini diantaranya berusaha mengerjakan latihan walaupun sulit, tetap belajar walaupun guru tidak masuk mengajar, rajin membaca buku matematika, mau mengerjakan soal latihan matematika selain yang ditugaskan guru, dan bersemangat mengikuti pelajaran matematika.

3)   Kebutuhan
                   Menurut Suryabrata (2007:70) kebutuhan (motif) yaitu keadaan dalam diri pribadi seorang siswa yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan . Kebutuhan ini hanya dapat dirasakan sendiri oleh seorang individu. Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Dalam hal ini motivasi sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar. Dan minat merupakan potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentangan waktu tertentu.
                   Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Dan segala sesuatu yang menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri.
                   Jadi motivasi merupakan dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang sehingga ia berminat terhadap sesuatu objek, karena minat adalah alat motivasi dalam belajar.
                   Beberapa indikator yang berhubungan dengan aspek kebutuhan ini diantaranya belajar matematika agar sukses dalam berkarir, adanya kesadaran untuk membuat catatan sendiri, ingin pintar matematika agar dapat mengikuti olimpiade, dan tidak terlambat mengikuti pelajaran matematika


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi memiliki hubungan yang erat dengan minat, dan emosi dalam proses pembelajaran dalam hidup manusia. Dalam diri manuasia sebenarnya terdapat system motivasion yang bisa muncul saat emosi seseorang terganggu.Emosi bisa juga mempengaruhi sistem motivasi dalam diri manusia.

Misalnya ketika seseorang merasa terpukul dalam suatu keadaan, emosi akan bergejolak dalam diri manusia tersebut. Sehingga system motivasi akan menggerak dia untuk keluar dari keterpurukan tersebut dan orang yang bersangkutan bisa mempunya kehidupan yang baik.